Kamis, 11 Agustus 2011

DI UJUNG JALAN SEPI



Alam kini melangkah meninggalkanku
Mulutku beku seketika dengan sepenuh jiwa ku usahasakan
Lepas dari nafas yang tertekan beku

Hanya dingin yang menyapaku dengan hening
Wajaku merah menunduk malu
Entah naga apa yang menyemburkanku dengan api
Benar benar kali ini tepat mengenaiku

Aku berpaling tanpa gerak dan melangkah tanpa nada
Bahkan deru alam pun tak berkata satu pun
Daun daun kini bertaburan
Entah mengapa entah dari mana
Ku pikir mereka merindukanku

Nyanyian alam menyadarkan indahnya pagi ini
Pandanganku kini tak asin lagi teriakkan hatiku
Kini kehangatan kasih sayang itu ku rasakan
Dalam pelukanku yang tak perna ku dapat
Dalam meganya hidupku

Tapi angin membawa semua berlalu
Menjauh dari kenyataan yang ada
Tapi ku bersyukur Tuhan membuat
Semuanya memang indah

DI UJUNG JALAN SEPI



Alam kini melangkah meninggalkanku
Mulutku beku seketika dengan sepenuh jiwa ku usahasakan
Lepas dari nafas yang tertekan beku

Hanya dingin yang menyapaku dengan hening
Wajaku merah menunduk malu
Entah naga apa yang menyemburkanku dengan api
Benar benar kali ini tepat mengenaiku

Aku berpaling tanpa gerak dan melangkah tanpa nada
Bahkan deru alam pun tak berkata satu pun
Daun daun kini bertaburan
Entah mengapa entah dari mana
Ku pikir mereka merindukanku

Nyanyian alam menyadarkan indahnya pagi ini
Pandanganku kini tak asin lagi teriakkan hatiku
Kini kehangatan kasih sayang itu ku rasakan
Dalam pelukanku yang tak perna ku dapat
Dalam meganya hidupku

Tapi angin membawa semua berlalu
Menjauh dari kenyataan yang ada
Tapi ku bersyukur Tuhan membuat
Semuanya memang indah

AKU MENULIS DI PANTAI




Air kembalilah ke hati
Kembali kemusim percintaan
Seperti ombak bercinta dengan pasir

Air peluklah bagai berpeluk rindu
Pecah satu bunyi asmara
Senandung siang malamku

Aku menulis di pantai
Gelombang nyanyian dan bukit lagu
Di antara batu tua dan ombak

Dalam rahasia dua kutub tangan tetua
Menarilah seperti tak peduli angin
Dengan mesra memberikan aku gigil